Blog

Kapan Pengiriman Udara Jadi Pilihan Wajib, Bukan Sekadar Pilihan Cepat?

Diposting oleh : : - Waktu Baca 5 menit
pengiriman udara
pengiriman udara

Sebagian besar importir secara otomatis memilih jalur laut demi menekan biaya, dan itu wajar karena selisih tarifnya memang cukup signifikan. Namun, ada situasi tertentu di mana kebiasaan ini justru berbalik merugikan, karena biaya akibat keterlambatan bisa jauh lebih besar dibanding selisih ongkos pengiriman udara.

Masalahnya, banyak pelaku usaha impor baru menyadari hal ini setelah kejadian, bukan sebelum memutuskan metode pengiriman. Sehingga, kamu harus mengetahui titik-titik kritis yang sebaiknya jadi sinyal bahwa udara bukan lagi pilihan cepat semata, melainkan kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Apa sajakah itu? Yuk simak!

Kapan Pengiriman Udara Jadi Opsi Wajib?

Untuk mengetahui situasi apa saja yang membuat pilihan pengiriman ini bukan sekedar opsi, kamu bisa menemukannya di penjelasan berikut!

1. Stok Mendadak Habis di Tengah Penjualan Tinggi

Ketika stok tiba-tiba kosong saat penjualan sedang bagus-bagusnya, menunggu 3-6 minggu lewat laut sama saja membiarkan momentum penjualan hilang begitu saja. Kehilangan penjualan selama masa kekosongan stok sering kali jauh lebih mahal dibanding selisih ongkir udara yang harus dibayar.

2. Ada Tenggat Kontrak atau Komitmen ke Klien

Jika kamu terikat kontrak dengan klien atau distributor yang menetapkan tanggal pengiriman pasti, keterlambatan bisa berujung pada penalti atau bahkan pembatalan kerja sama. Dalam situasi ini, biaya pengiriman udara jadi jauh lebih kecil dibanding risiko kehilangan kontrak jangka panjang.

3. Barang Pengganti untuk Klaim Kerusakan

Saat pengiriman sebelumnya bermasalah dan pelangganmu menunggu barang pengganti, kecepatan menjadi prioritas utama untuk menjaga kepercayaan. Menunggu barang pengganti lewat laut berisiko membuat pelanggan beralih ke kompetitor sebelum masalah sempat diselesaikan.

4. Jendela Tren atau Musim yang Sempit

Produk musiman atau yang sedang tren punya jangka waktu terbatas sebelum minat pasar menurun. Terlambat beberapa minggu saja bisa membuat kamu kehilangan momentum, sementara kompetitor yang lebih cepat bergerak sudah menguasai pasar lebih dulu.

Apakah Logistik Udara Selalu Lebih Mahal Dibanding Laut Jika Dihitung Total?

Belum tentu, tergantung dari sisi mana kamu menghitungnya. Jika dilihat hanya dari tarif per kilogram, udara memang lebih mahal dibanding laut. Tapi, itu baru separuh gambaran, karena keputusan memilih jalur pengiriman seharusnya tidak berhenti di angka invoice saja.

Cara pandang yang lebih lengkap adalah memasukkan biaya kehilangan penjualan akibat stok kosong, denda keterlambatan, atau hilangnya momentum pasar ke dalam perhitungan. Begitu faktor-faktor ini ikut dihitung, total kerugian akibat memilih laut bisa jadi lebih besar dibanding premium yang harus dibayar untuk pengiriman udara.

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Menggunakan Pengiriman Udara

Sebelum memutuskan beralih ke udara, bandingkan dulu dua angka, yaitu selisih biaya antara udara dan laut, versus estimasi kerugian jika barang telat sampai. Jika potensi kerugian akibat keterlambatan lebih besar dari selisih ongkir, udara jadi pilihan yang lebih masuk akal secara bisnis, bukan sekadar soal kecepatan.

Sebagai gambaran, misalnya selisih ongkir udara dan laut untuk 50 kg barang sekitar Rp1,5 juta. Jika stokmu kosong selama masa tunggu laut yang 4 minggu, sementara penjualan harianmu rata-rata Rp500 ribu, potensi kehilangan omzet selama masa kosong itu bisa tembus Rp14 juta. Dibanding harus kehilangan sebesar itu, selisih ongkir udara jadi terasa jauh lebih kecil dan masuk akal untuk dibayar.

Selain itu, cek juga apakah barang yang akan dikirim masuk kategori terbatas untuk jalur udara, karena beberapa jenis produk tetap punya pembatasan meski dalam kondisi mendesak. Pastikan juga kemasan sudah sesuai dengan standar udara, bukan sekadar memakai yang biasa untuk pengiriman laut.

Sebaliknya, jika barang tidak terikat tenggat waktu tertentu dan stok masih aman, laut tetap jadi opsi yang lebih hemat tanpa perlu terburu-buru mengganti metode pengiriman.

Jadi, pengiriman udara sebaiknya tidak selalu dipandang sebagai pilihan darurat yang mahal, melainkan sebagai investasi untuk menghindari kerugian yang jauh lebih besar dalam situasi tertentu. Kenali dulu titik kritis bisnismu, baru tentukan kapan waktu yang tepat untuk beralih dari laut ke udara.

Nah, jika stokmu sudah mulai menipis dan belum yakin apakah situasinya cukup mendesak untuk beralih ke udara, coba hitung dulu kebutuhannya bersama Ancala Logistik. Kami akan bantu kamu menentukan estimasi biaya dan waktu sampai proses pengiriman LCL via udara.

Yuk langsung saja hubungi kami!

FAQ

1. Berapa lama estimasi pengiriman udara dari China ke Indonesia?

Umumnya sekitar 5-10 hari, jauh lebih cepat dibanding jalur laut yang bisa memakan waktu 3-6 minggu.

2. Apakah semua jenis barang bisa dikirim lewat udara dalam kondisi mendesak?

Tidak semua. Beberapa kategori seperti baterai lithium dalam jumlah besar atau cairan tertentu tetap memiliki pembatasan meski dalam situasi darurat.

3. Bagaimana cara menghitung apakah kerugian keterlambatan lebih besar dari biaya udara?

Bandingkan estimasi kehilangan penjualan atau denda kontrak akibat keterlambatan dengan selisih biaya antara pengiriman udara dan laut untuk volume yang sama.

4. Apakah pengiriman udara selalu jadi pilihan terbaik untuk produk musiman?

Tidak selalu wajib, tetapi sangat disarankan jika jendela waktu tren produk tersebut cukup sempit dan berisiko terlewat jika memakai jalur laut.

5. Apakah ada cara mengurangi biaya udara untuk kondisi mendesak?

Ada, misalnya dengan mengirim hanya sebagian barang prioritas lewat udara, sementara sisanya tetap dikirim lewat laut untuk menekan total biaya.

Banner Promosi

Artikel Terkait