Blog

Impor dari China Itu Sulit? Ini Alur yang Perlu Kamu Pahami Sebelum Mulai

Diposting oleh : : - Waktu Baca 8 menit
impor dari China
impor dari China

Pernah kepikiran mulai impor dari China, tetapi langsung mundur setelah melihat istilah seperti HS Code, Lartas, bea masuk, customs clearance, sampai dokumen pengiriman? Wajar. Bagi pemula, rangkaian proses tersebut memang terlihat seperti banyak pintu yang harus dilewati satu per satu. Padahal, mengimpor barang dari China akan terasa jauh lebih mudah jika kamu memahami alurnya sejak awal.

Masalahnya, banyak calon importir justru langsung fokus mencari barang dan harga supplier, sementara urusan regulasi, biaya keseluruhan, sampai metode pengiriman baru dipikirkan belakangan. Di sinilah masalah biasanya mulai muncul. Nah, agar kamu tidak salah juga, yuk, pahami alur impor yang benar!

Bagaimana Alur Impor Barang dari China?

Memahami alur impor sejak awal bisa membuat prosesnya terasa lebih sederhana. Ada beberapa tahap, mulai dari memilih produk dan supplier hingga mengurus pengiriman dan proses kepabeanan di Indonesia. Berikut penjelasannya!

1. Mulai dari Produk, Bukan Langsung dari Supplier

Sebelum membuka Alibaba, 1688, Taobao, atau Tmall, tentukan dulu produk yang memang ingin dibawa masuk ke Indonesia. Jangan hanya tergoda karena harga di China terlihat jauh lebih murah. Coba hitung apakah produk tersebut punya pasar, berapa harga jual realistis di Indonesia, berapa jumlah yang akan dipesan, dan berapa margin setelah seluruh biaya diperhitungkan.

Yang tidak kalah penting, cek aturan barangnya. Setiap produk memiliki klasifikasi HS Code yang berkaitan dengan tarif bea masuk dan ketentuan Larangan dan Pembatasan (Lartas). Beberapa jenis barang juga membutuhkan persyaratan atau izin teknis tertentu. Karena itu, pengecekan regulasi sebaiknya sebelum membayar supplier, bukan setelah barang sudah berada di perjalanan.

Baca juga: Ide Bisnis Produk Impor dari China yang Berpotensi Cuan di 2026

2. Cari Supplier dan Jangan Hanya Melihat Harga

Sudah menemukan supplier dengan harga paling murah? Jangan buru-buru checkout. Harga murah belum tentu berarti biaya akhirnya paling rendah. Kamu perlu melihat MOQ, spesifikasi produk, material, ukuran, kemampuan produksi, waktu pengerjaan, sampai pengalaman supplier menangani pesanan internasional.

Untuk pembelian pertama, meminta sampel juga bisa menjadi langkah penting. Dengan begitu, kamu bisa membandingkan barang yang ditawarkan dengan foto atau spesifikasi di listing sebelum pesan dalam jumlah besar.

Komunikasi juga perlu sejelas mungkin. Pastikan detail seperti warna, ukuran, bahan, packaging, jumlah, logo, dan standar produk tertulis dengan jelas agar tidak terjadi perbedaan pemahaman saat produksi.

3. Hitung Landed Cost, Bukan Harga Barang Saja

Ini bagian yang sering membuat importir pemula salah menghitung modal. Misalnya harga produk impor dari China terlihat sangat murah. Namun, setelah ditambahkan biaya pengiriman domestik China, biaya pengiriman internasional, handling, bea masuk, pajak, hingga pengiriman ke gudang, angka akhirnya bisa berbeda cukup jauh. Karena itu, gunakan konsep landed cost, yaitu menghitung total biaya yang diperlukan sampai barang tiba di lokasi tujuan.

Sederhananya:

Harga barang + biaya lokal di China + freight + asuransi bila diperlukan + biaya kepabeanan/pajak + handling + pengiriman domestik = estimasi biaya barang sampai tujuan.

Dengan perhitungan ini, kamu bisa mengetahui apakah produk tersebut memang masih memiliki margin yang masuk akal sebelum order dalam jumlah besar.

4. Tentukan Cara Pembayaran dan Pengiriman

Setelah supplier, produk, dan biaya sudah jelas, berikutnya adalah menentukan bagaimana transaksi dan pengiriman. Untuk pembayaran, pastikan metode sesuai dengan kebutuhan transaksi dan memiliki bukti pembayaran yang jelas. Sementara dari sisi logistik, pilihan pengiriman umumnya disesuaikan dengan volume, berat, nilai barang, urgensi, serta karakter produknya.

Untuk volume besar, pengiriman laut seperti LCL atau FCL bisa menjadi pilihan. Sementara barang yang membutuhkan waktu lebih cepat bisa kamu pertimbangkan melalui jalur udara. Jadi, jangan memilih metode pengiriman hanya berdasarkan tarif per kilogram; waktu, volume, karakter barang, dan tujuan akhirnya juga perlu dihitung.

5. Siapkan Dokumen dan Proses Kepabeanan

Barang yang masuk ke Indonesia tidak sekadar berpindah dari gudang China ke gudang Indonesia. Ada proses kepabeanan. Untuk impor komersial, aspek legalitas importir dan dokumen transaksi maupun pengiriman perlu dipastikan sesuai skema. Dokumen seperti commercial invoice, packing list, serta dokumen pengangkutan menjadi bagian dari proses administrasi impor.

Di tahap ini pula, kesesuaian informasi barang menjadi penting. Deskripsi produk, jumlah, nilai transaksi, klasifikasi barang, dan dokumen pengiriman harus konsisten. Kesalahan pada tahap administrasi menyebabkan proses clearance menjadi lebih panjang atau menimbulkan biaya tambahan.

6. Barang Tiba di Indonesia

Setelah barang impor dari China sampai di Indonesia, masih ada tahapan sampai barang benar-benar sampai gudang atau alamat tujuan. Jika menggunakan skema yang melibatkan customs clearance, barang perlu melalui proses kepabeanan sesuai ketentuan yang berlaku. Setelah proses tersebut selesai, barang dilanjutkan ke tahap pengiriman domestik.

Karena itu, ketika membandingkan jasa logistik, jangan hanya bertanya, “Berapa ongkirnya?”. Tapi, “Apa saja yang sudah termasuk dalam biaya tersebut?” Apakah hanya freight? Apakah sudah termasuk handling? Bagaimana proses clearance? Apakah ada biaya lain di tujuan? Pertanyaan seperti ini membantu menghindari kejutan biaya ketika shipment sudah berjalan.

Ingin Proses Impor Lebih Terarah?

Jika baru pertama kali menjalankan proses impor dari China, mengurus semua tahapan sendiri memang bisa terasa cukup melelahkan. Mulai dari mencari supplier, melakukan komunikasi dan negosiasi, memastikan spesifikasi produk, sampai mengatur pengiriman membutuhkan perhatian yang tidak sedikit.

Nah, Ancala Logistic siap mendampingi dan membantu proses impor bisnismu. Kami menyediakan jasa belanja China, yang termasuk sourcing supplier, komunikasi dan negosiasi, pembelian, serta pengecekan spesifikasi produk. Kami juga menyediakan kebutuhan logistik seperti QC, customs clearance, dan pilihan pengiriman dari China ke Indonesia, yaitu LCL laut, LCL udara, dan FCL laut.

Jadi, kamu tidak harus memahami seluruh proses sekaligus dalam satu hari. Yang penting, pahami alurnya terlebih dahulu, hitung biaya dengan realistis, dan pastikan setiap tahap sudah jelas sebelum barang diberangkatkan.

Intinya, impor barang dari China sebenarnya bukan soal sulit atau mudah. Semakin jelas alurnya sejak awal, semakin kecil kemungkinan kamu bingung soal biaya, dokumen, supplier, atau proses pengiriman di tengah jalan.

FAQ

1. Apa langkah pertama sebelum impor barang China?

Tentukan produk dan riset pasar dahulu. Setelah itu, cek HS Code serta ketentuan Lartas untuk mengetahui persyaratan impor produk tersebut.

2. Apakah harus mencari supplier di Alibaba?

Tidak. Supplier dapat ditemukan melalui berbagai platform seperti Alibaba, 1688, Taobao, maupun Tmall. Pilih platform sesuai jenis produk dan kebutuhan pembelian.

3. Apa itu landed cost dalam impor?

Landed cost adalah perkiraan total biaya sampai barang tiba di lokasi tujuan, bukan hanya harga produk dan ongkos kirim internasional.

4. Apakah barang dari China selalu harus dikirim lewat laut?

Tidak. Pilihan bisa berupa pengiriman laut maupun udara, tergantung volume, berat, karakter barang, anggaran, dan kebutuhan waktu pengiriman.

5. Apa yang perlu diperhatikan saat memilih jasa impor China?

Perhatikan cakupan layanan, transparansi biaya, proses pengiriman, penanganan kepabeanan, komunikasi, serta apakah jasa tersebut bisa membantu kebutuhan sourcing atau pembelian dari supplier.

Banner Promosi

Artikel Terkait