Sepanjang 2026, rupiah sempat bergerak liar, mulai dari kisaran Rp16.850 per dolar AS di awal tahun, sampai menembus level psikologis Rp18.000 pada Juni akibat tekanan geopolitik dan defisit neraca pembayaran. Situasi seperti inilah yang membuat strategi impor matang menjadi kebutuhan, bukan lagi sekadar opsi tambahan bagi pelaku usaha yang bergantung pada barang dari luar negeri.
Bagi importir, gejolak kurs bukan sekadar angka di layar berita, tetapi langsung berdampak pada biaya pembelian barang dari luar negeri. Tanpa langkah antisipasi yang tepat, margin keuntungan yang sudah dihitung sejak awal bisa tergerus habis hanya karena selisih kurs saat pembayaran ke supplier. Nah, agar bisnis tetap stabil di tengah ketidakpastian nilai tukar, yuk, cari tahu langkah-langkah yang bisa kamu terapkan!
Kenapa Fluktuasi Kurs Begitu Berpengaruh pada Biaya Impor?
Sebagian besar transaksi impor dari China menggunakan mata uang asing, baik dolar AS maupun yuan. Setiap kali rupiah melemah, jumlah rupiah yang perlu kamu keluarkan untuk membayar supplier otomatis bertambah, meski harga barang dalam mata uang asli tidak berubah sama sekali.
Masalahnya, banyak importir menetapkan harga jual berdasarkan kurs saat mereka menghitung modal awal. Jika kurs bergerak signifikan sebelum pembayaran, selisihnya bisa langsung memakan margin yang sudah direncanakan sejak awal. Dalam kasus pelemahan tajam seperti yang terjadi pada Juni 2026, selisih ini bahkan bisa mencapai belasan persen dari total nilai transaksi.
Strategi Impor Menghadapi Fluktuasi Rupiah
Untuk mengantisipasi pembengkakan modal, kamu bisa menerapkan strategi berikut untuk mengurangi dampak gejolak kurs terhadap bisnis impor!
1. Gunakan Forward Contract atau Hedging
Forward contract memungkinkan kamu mengunci nilai tukar untuk transaksi di masa depan lewat bank atau lembaga keuangan. Strategi impor yang pertama ini akan membuat biaya impor jadi lebih terprediksi meski kurs bergerak fluktuatif menjelang waktu pembayaran tiba.
2. Beli Valuta Asing Secara Bertahap
Daripada menukar dalam jumlah besar sekaligus, membeli valuta sedikit demi sedikit saat kurs relatif stabil bisa meratakan risiko kurs secara keseluruhan. Strategi ini membantu kamu menghindari kondisi terjebak menukar seluruh dana tepat saat rupiah sedang berada di titik terlemahnya.
3. Negosiasikan Termin Pembayaran dengan Supplier
Beberapa supplier bersedia memberi tenggat waktu pembayaran lebih panjang, terutama bagi pembeli dengan riwayat kerja sama yang baik. Kelonggaran waktu ini memberimu ruang untuk menunggu momen kurs yang lebih menguntungkan sebelum benar-benar melakukan pembayaran.
4. Diversifikasi Sumber Pemasok
Mengandalkan satu supplier saja membuat bisnismu rentan terhadap satu risiko tunggal, termasuk risiko kurs di satu mata uang tertentu. Dengan menyebar pembelian ke beberapa supplier atau bahkan negara berbeda, dampak fluktuasi kurs terhadap keseluruhan biaya impor bisa lebih tersebar dan terkendali.
5. Pantau Jadwal Update Kurs Pajak Mingguan
Kementerian Keuangan menetapkan kurs pajak setiap minggu, biasanya berlaku dari hari Rabu hingga Selasa pekan berikutnya. Dengan memantau jadwal ini secara rutin, kamu bisa merencanakan waktu transaksi dan estimasi bea masuk dengan lebih akurat.
Apakah Hedging Valas Hanya untuk Perusahaan Besar?
Ini anggapan yang cukup umum, padahal sebenarnya keliru. Meski forward contract formal lewat bank memang lebih sering dipakai perusahaan besar dengan volume transaksi tinggi, tapi importir skala kecil tetap bisa menerapkan prinsip serupa dengan cara yang lebih sederhana.
Membeli valuta secara bertahap, menunda pembelian saat kurs sedang tidak menguntungkan, atau memanfaatkan layanan transfer mata uang dengan rate yang lebih stabil, semuanya termasuk bentuk manajemen risiko kurs yang bisa diterapkan tanpa perlu skala bisnis besar sekalipun.
Pada akhirnya, menghadapi gejolak rupiah bukan berarti kamu harus berhenti impor atau menahan semua transaksi. Yang perlu kamu lakukan adalah menyusun strategi impor yang membuat biaya tetap terprediksi, meski kurs bergerak naik turun setiap harinya.
Nah, solusi untuk menekan risiko selisih kurs adalah dengan menggunakan RMB Express dari Ancala Logistic. Lewat layanan tersebut, kami akan membantu kamu melakukan transaksi secara langsung ke supplier di China dengan rate yang lebih transparan dibanding jalur konversi berlapis. Kamu tidak perlu lagi menukar rupiah ke dolar dulu baru dikonversi lagi ke yuan, karena setiap tahap konversi biasanya menyimpan selisih kurs tersembunyi yang justru menambah beban biaya tanpa kamu sadari.
Dengan transfer langsung dalam mata uang yuan, kamu juga bisa memantau nilai tukar yang berlaku saat itu juga, sehingga lebih mudah menentukan waktu transaksi yang paling menguntungkan. Jadi tunggu apalagi? Yuk hubungi kami sekarang juga!
FAQ
1. Apa itu forward contract dalam konteks impor?
Forward contract adalah kesepakatan dengan bank untuk mengunci nilai tukar pada transaksi di masa depan, sehingga biaya impor tidak terpengaruh pergerakan kurs harian.
2. Kenapa kurs pajak berbeda dengan kurs pasar?
Kurs pajak ditetapkan Kementerian Keuangan setiap minggu untuk keperluan perhitungan bea masuk, sementara kurs pasar bergerak setiap saat mengikuti mekanisme perdagangan valuta asing.
3. Apakah membayar dalam yuan lebih menguntungkan dibanding dolar?
Tergantung supplier dan kesepakatan, tetapi transfer langsung dalam yuan terkadang menghindarkan biaya konversi ganda yang muncul jika transaksi melewati dolar terlebih dahulu.
4. Apakah diversifikasi supplier benar-benar mengurangi risiko kurs?
Bisa membantu, terutama jika kamu mendiversifikasi ke supplier dengan mata uang transaksi berbeda. Jadi, tidak seluruh biaya impor terpapar pada satu jenis risiko kurs saja.
5. Kapan waktu terbaik membeli valuta asing untuk pembayaran impor?
Tidak ada waktu yang pasti. Tetapi memantau tren pergerakan kurs beberapa minggu terakhir bisa membantu menentukan momen yang relatif lebih stabil untuk bertransaksi.
